Sunday, January 21, 2007
Kalah Lagi..
Fiorentina....bangkitlah ditengah keterpurukanmu, bersemangatlah ditengah penderitaanmu. Aku jadi ingat, pernyataan Andrian Mutu, yang sampai bikin aku menangis..
"Hari ini, saya Andrian Mutu mengatakan kepada kalian bahwa fiorentina akan finis di peringkat-4 dan akan ikut Liga Champions musim mendatang". begitulah kira-kira pernyataannya. Aku terharus. Aku salut buat loyalitas dia untuk mengakhiri karier di fiorentina, sama salutnya dengan my legend "Gabriel Omar Batistuta" yang tetep membela fio dikala terdegradasi ke serie-B.
Semua pemain fio selalu takjub, cinta akan keindahan dan pesona kota Firenze atau Florence dalam bahasa Inggris-nya. Suatu saat kelak....impianku....aku ingin sekali kesana....melihat langsung AC Fiorentina SpA bertanding. Aku ingin sekali. Karena aku seorang FLORENZA sejati!
TERUS BERJUANGLAH FIORENTINA-ku....
Saturday, January 20, 2007
Harapan
"1 Muharram 1428 H"
Friday, January 19, 2007
Tulisan Dalam Suatu Perjalanan
Kamis, 07 Des ‘06
AKHIRI KESEDIHANMU
Kamis yang cerah. Kamis yang bisa dibilang hari taruhanku. Awal dari hidup baruku untuk dengan segera melupakan semua pedih dan sesak rasa hatiku karena suatu hal. CINTA DAN WANITA. Aku ini seorang lelaki bernama Dies Bhakti. Aku mulai detik ini harus tegas, lugas. Semua trauma kesedihan dan kehilangan harus segera aku bungkus rapat-rapat untuk kemudian aku buang jauh-jauh dari memori otakku, memori pikiranku, memori hatiku dan memori perasaanku!
Di dalam sebuah bus yang melaju kencang. Entah bus Mira apa Eka, aku tadi lupa melihatnya. Tapi yang terpenting Bus Ekonomi! Suasana diluar (di jalan) ketika ku melihatnya dari balik jendela, orang-orang sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya. Jalanan yang ramai oleh orang-orang yang hendak melakukan aktivitasnya. Bus-bus yang malang melintang mengantarkan orang ke tempat tujuan. Kini aku melintas di tempatku kuliah dulu, UNS. Keadaan masih seperti dulu. Suasana masih serindang dulu. Aku merasa cukup nyaman di bus. Hanya segelentir orang yang berada di bus. Aku hitung ada 14 orang saja. Itu sudah termasuk Bapak Sopir dan Bapak Kondektur serta dua anak kecil (balita) yang digendong sang Ibu. Cukup sepi penumpangnya memang jika dibandingkan ketika aku balik dari Surabaya ke Solo dulu.
Yah.....aku kemarin-kemarin memang pulang. Balik ke Solo. Kampung halamanku. Tempat kelahiranku. Dari Surabaya, tempat kuliahku sekarang. Tadi Ibu membangunkanku jam lima kurang. Aku masih ngantuk sebenarnya, mengingat kemarin baru pulang dari proses persemedianku. Eh...ga ding! Kemarin tuh aku jalan-jalan ama temen-temenku. Lebih tepatnya touring ke Paris alias Pantai Parangtritis. Pantai selatan pulau jawa yang lebih tepatnya berada di Jogjakarta yang terkenal dengan Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan). Kembali ke bangun pagi tadi, setelah kurasa sudah cukup loadingku menuju proses pengumpulan dan pengembalian nyawa, biasanya orang bangun tidur kan butuh waktu dulu sebelum sadar 100%. Segera ku raih air wudlu untuk sholat Shubuh dulu. Aku liat Ibu sudah terlihat sibuk kesana-kemari. Maklum..hari ini rumahku mau ada kegiatan pengajian, syukuran atau tahlilan aku juga ga tau. Aku kagak tau dalam rangka apa tapi yang pasti kata Ibu untuk mendoakan almarhum dan almarhumah Kakek dan Nenek. Baik Kakek dan Nenek yang dari Bapakku yang dari Kebumen maupun Kakek dan Nenek dari Ibu yang ada di Solo. Beliau-beliau sudah meninggal. Sudah lama. Pokoknya acara 1000 hari (sewu dino)-nya sudah lama berlangsung. Kembali lagi, di dalam rumah yaitu di ruang tamu dan di teras rumah rupanya sudah digelar karpet-karpet. Kemaren malem Bapak yang gotong royong. Duh..aku ini bener-bener anak yang tidak berbakti ama orang tua. Aku tidak ikut membantu Bapakku yang kemaren malem bersih-bersih. Kebetulan aku lagi car oleh-olehbuat temen-temen ntar di Sby dan potong rambut biar kelihatan fresh. Tapi kayaknya aku harus siap-siap tutup muka lagi. Menanggung malu karena potongan rambutku kayak kemaren lagi. Diledekin temen-temen kayak penyanyi dangdut lah, kayak orang-orang Melayu Malaysia lah, kayak Saiful Jamil lah. Wis..pokoe ndeso bwanged. Ga cocok ama karakter wajahku. Itu sih katanya temenku. Tapi sutralah apa kata mereka. Peduli amat!!!! Selama aku enjoy dengan keadaanku serta tidak ngerugiin orang lain, aku ya akan tetap kayak gini. Halah..GR! Situasi bus yang berjalan goyang kekanan-kiri. Kayaknya bus berjalan diatas jalan yang bergelombang. Tidak rata. Banyak lubangnya. Tapi tak apalah..aku lagi pengen tulis aja. Sekalian buat ngilangin rasa suntuk.
Duh....indahnya hamparan sawah yang dengan eloknya terbentang luas seakan padinya menari-nari tertiup angin menyambut mentari. Kapan ya aku bisa merasakan hidup damai bahagia sentosa lahir batin di desa lagi. Aduuuuhhh...aku pengen banget! Jadi teringat masa kecilku dulu. Tinggal di desa di tempat asal kelahiran Bapakku. Kebumen. Tempat indah yang hanya diterangi lampu minyak serta berhias kunang-kunang di malam hari. Sungguh tenang, asri, mempesona menarik hatiku. Aku kangen menikmati hal itu lagi.....
Tanggapan
LOVEphobia
Harap dicatat : Tulisan ini cuma fiksi belaka!
Cerita yang TIDAK BERMUTU sama sekali. Jangan pernah baca dan jangan mau jika disuruh baca cerita ini. Saya saja nggak ngeh mbacanya. Penulisnya juga kagak gaul. Hari gini masih suka sama fiorentina? Saya saja sudah cabut dari dulu. Lebih baik bergelut di dunia mode kayak saya sekarang. Daripada ditawarin jadi presiden fiorentina. Iggghhh.. enggak lah yau!
Gabriel Omar Batistuta ”Legenda Fiorentina”
Cerita yang tak layak untuk dipublikasikan. Alurnya ngawur. Kayak penulisnya, MAWUT! Jangan pernah menawarkan kepada saya untuk dibuat versi filmnya. Tapi kalau disuruh buat versi bokepnya saya sih mau-mau saja.
Steven Spielberg ”Sutradara Hollywood”
Daya imajinasi yang TAK BERKONSEP. Sekedar mencipta saja tapi tidak tau konsumen rasanya mau muntah-muntah jika membacanya. High class writer semacam saya hanya menganggap tulisan anda sebagai limbah yang nggak perlu di-treatment.
J K Rowling ”Pengarang Harry Potter”
Tidak berpendidikan!!! Tidak mencerminkan seorang mahasiswa. Cerita ini pantesnya dibaca oleh kakek-nenek yang umurnya sudah 100 tahun ke atas. Sampeyan niku wis gedhe Mas. Kudune yo iso mikir dong! Mikir.. mikir!!! Tung tung tung?! Dasar lulusan universitas GA JELAS!
Nama dirahasiakan ”Rektor XXX cuk!”
Tidak terima!!! Sebagai penguasa daerah, aku ORA TRIMO jika ada putera daerah dilecehkan. Kulo aturi prikso ngih menawi tiyang-tiyang ingkang asalipun saking daerah kulo meniko sae-sae. Mboten leres kaliyan pangucapanipun panjenengan. Meniko mawon ingkang sakwetawis kulo sumerep. Mugi-mugi panjenengan saged midangetaken.
The King of SuraXXXta Hadiningrat Kingdom
Congratz.. akhirnya muncul juga sineas muda yang walaupun tidak begitu potensial tapi bisa membangkitkan energi kinetik. Kami usulkan agar cerita ini didaftarkan ke Muri dan Guinness Book of The Record sebagai cerita pualing mengenaskan. Karyanya terlalu asal-asalan, ugal-ugalan dan ga karuan. Cocok sebagai cerita panduan bagi mereka yang masuk RSJ akibat sindrome patah hati. Oke.. gitu saja cuap-cuap dari kami. KEEP SOLO CONFORT!
Kru Solo Radio
ASTAGHFIRULLAAH.. ini termasuk cerita yang haram hukumnya untuk dibaca. Merusak generasi muda yang emang sudah rusak. Kritikan pedas buat penulisnya : Daripada buang-buang waktu, mendingan jihad, tobat, cari pahala, kembali ke jalan yang lurus, hapus semua tuh file-file bokep di desktop-mu, bikin dosa saja!
Usamah bin Laden ”Tokoh Al Qaidah”
BOS.. keren men tulisannya. Anak gaul gitu loh. Lebih baik lagi kalo ikutan saya. Jangan didengerin tuh kritikan diatas. Btw, jadi manusia kok JOMBLO. Jadi jomblo itu makan ati (maksudnya tai) choy! Pait!!! Mendingan cari selingan di gang yang ’itu’ lho. Wuenak tenan! Enjoy aja men and join with me. Don’t mis it!
Iblis, syaiton dan konco-konconya
Cerpen yang PAYAH. Cerita yang mengenaskan. Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi tapi jangan sampai sakit di bui. Hehe.. lari saja kayak gue ke luar negeri. Disini selalu hepi.
Edy Tansil ”Buronan Kelas Kakap”
Hey.. tuh yang kasih komentar diatas! Awas kamu kalau ketangkep. Tak rebus hidup-hidup!!! @#$%^&*()_+
Pak Polisi
Hey.. tuh yang juga kasih komentar diatas! Awas kamu kalau nangkep saya. Tak sedot mateng-mateng!!! +_)(*&^%$#@
Waria
LOVEphobia - part.1
Prolog
Pernahkah anda merasa takut lagi jatuh cinta? Pernahkah kaum lelaki merasa bahwa cewek ternyata sudah tidak penting lagi. Bukan karena suatu alasan yang real. Hanya karena sudah merasa bahwa cinta itu enggan lagi bersanding, menghampiri kita. Hmmm...kok bisa yah?
Ternyata tidak banyak cowok yang sudah muak dengan yang namanya jatuh hati pada sesosok makhluk yang diberi label cewek. Kaum lelaki lebih banyak memilih wanita lain ketika mereka kandas berhubungan dengan wanita. Lelaki lebih bermental pejuang cinta, pencinta wanita, atau entah apalah namanya. Padahal fakta berbicara bahwa kaum cowok lebih banyak yang merasakan patah hati, sakit hati daripada kaum cewek. Mengingat gengsi menembak, mengungkapkan isi hati lebih condong ke arah cowok. Gengsi??? Jaman gini cewek masih gengsi? Ya enggak lah. Kadang-kadang pernyataan itu muncul sebagai tangkisan dari cewek. Tapi disadari atau tidak, lelaki lah yang akan pertama kali mengungkapkan isi hatinya kepada orang yang dicintainya. Masalahnya sekarang hanya ada dua opsi jawaban. Diterima. Ditolak. Tapi kadang juga disuruh menunggu. Atau bahkan disuruh jadi TTM aja. Waduh.
Karena itu cowok lebih cenderung mencintai cewek, yang pada akhirnya menjadi rasa ingin memiliki. Lain halnya dengan cewek yang lebih cenderung ingin disayangi. Karena kenyataannya ketika cewek merasa disayangi cowok, perasaan cinta itu baru muncul belakangan.
Yah..apalah semua itu, perkenalkan namaku Ardi. Ardi Mahardhika lengkapnya. Saya termasuk orang yang sudah tidak percaya lagi yang namanya cinta. Hati dan perasaan saya sudah phobia. Takut. Rasanya enggan lagi untuk menanamkan benih-benih cinta dan menumbuhkan rasa rindu. Ada perasaan terluka. Jera. Entah apalah kategori dari penyakit saya ini. Lebih mirip sakit jiwa. Karena dampak dari phobia cinta ini menular ke phobia-phobia yang lainnya. Tapi saya masih berpikir normal. Untuk lebih jelasnya mari kita tengok latar belakang yang menyebabkan saya mengidap penyakit kronis yang saya namakan sendiri ”LOVEphobia”.
Inilah sepenggal kisahnya..
Bab 1
Liburan Semester
Tak terasa semester empat sudah kelar. Berarti sudah dua tahun saya kuliah. Bukan suatu perjalanan pendek. Tapi juga tidak bisa dikatakan panjang, mengingat saya kuliah di Fakultas Teknik. Teknik kimia tepatnya, yang rata-rata membutuhkan masa studi 4,5 tahun. Apalagi jika kemampuan otak saya dibawah rata-rata. Bisa-bisa kuliah berabad-abad nih.
Hari minggu. Aku pulang ke rumah. Jogjakarta. Dari tempat kuliahku di Surabaya. Lumayan jauh memang. Apalagi saya pulang dengan naik bus. Ekonomi. Yah.. bus ekonomi yang identik dengan berdesak-desakan, banyak pengamen, banyak penjual yang dengan seenaknya kluar masuk bus, dan juga berkeliaran copet. Gawat! Benar-benar tidak nyaman. Apalagi dengan waktu tempuh yang bisa mencapai 7 jam. Tapi saya suka akan hal itu. Bukan karena alasan lebih ngirit. Dan bukan mau menyombongkan diri. Jika pengen naik bus patas ataupun kereta cepat, saya mampu melakukannya. Tapi saya lebih senang naik bis ekonomi. Lebih nyaman bagi saya. Dan beberapa alasan lainnya.
Tas ransel, lengkap beserta atribut-atributnya telah aku persiapkan sejak malam kemarin sehingga pagi ini bisa langsung segera berangkat.
”oiya.. mp3-ku hampir lupa” gumanku.
Segera saya raih mp3 beserta earphone-nya. Kemarin sore baterainya sudah saya charger. Jadi sudah siap buat menemani perjalananku yang lumayan melelahkan. Tetapi saya tetep enjoy. Jangan lupa!
Akhirnya dapat tempat duduk. Saya berada di deretan tengah. Saya mencari tempat dipinggir, sebelah kanan, persis disamping jendela. Kedudukan yang saya suka karena saya bisa melihat pemandangan luar. Surabaya yang masih pagi tetap saja matahari sudah menyengat cukup terik.
Akhirnya sampai juga di Jogja. Terminal Giwangan, terminal baru di Jogja terlihat lebih sepi dibanding suasana di Bungurasih. Hari ini saya pulang dijemput bapak saya.
”capek Di di perjalanan?” suara itu muncul dibelakang serta sebuah tangan memegang pundak saya.
”eh.. bapak tho, lumayan capek pak, gimana pak keadaan rumah” sahut saya sembari memeluk bapak saya.
”ya.. seperti biasalah, baik-baik saja kok. Adekmu saja tuh yang kadang bikin ibumu ngomel-ngomel”
Suasana rumah masih tampak seperti dulu lagi. Hanya pekarangan depan yang sekarang tampak lebih asri. Mungkin bapak yang menambah beberapa pot bunga yang lumayan besar. Bapak saya memang tipe seorang pekerja keras. Hari libur selalu dimanfaatkan untuk memperindah rumah.
”Ardi.. kamu baik-baik saja kan? Kok pulangnya baru sekarang sih?” ternyata ibu sudah ada di gerbang depan menyapa saya.
Saya memang jarang pulang rumah. Bukan tanpa alasan. Bapak Ibu memang menyarankan kalo emang tidak ada hal yang penting sebaiknya jangan pulang sering-sering. Sudah tiga bulan saya tidak pulang. Kadang-kadang Ibu jadi sedikit sentimentil ketika saya pulang.
”Ardi baik-baik saya Bu. Ibu juga baik-baik saja kan? Jawabku kemudian.
Adek Kelas
Hari senin. Malam yang terang. Saya lagi nyantai di kamar sambil membaca novel milik adek.
”Mas Ardiii.. ada telpon!” suara adekku teriak-teriak dari ruang keluarga.
”Dari sapa?”
”Tau.. tanya aja sendiri!”
”Ughhh..”
Suara di ujung telepon.
”Assalamu ’alaikum..”
”Apa bener ini mas Ardi?”
”Ini dari Fara mas. Adek klas mas waktu di SMP 4 dulu.”
”Pengen ngasih tau kalo SMP 4 rencananya mo ngadain reuni akbar angkatan 2000, 2001, 2002.”
”Lebih tepatnya angkatannya mas, kakak kelas mas ama angkatannya saya.”
”Tapi masih belum ada kepastian acara resminya kapan.”
”Bisa minta nomer HP-nya mas nggak?”
”Ntar aja untuk lebih jelasnya saya kasih tau via sms.”
”Makasih ya mas!”
”Assalamu ’alaikum..”
Reuni SMP? Kok temen-temen angkatanku ga ada yang bilang? Malah adek klasku yang ngasih tau. Tapi bukan itu yang aku permasalahkan. Tapi suara itu. Aku pernah mendengarkan. Aku pernah merasakannya sebelumnya. Tapi entahlah. Bayanganku masih belum begitu jelas. Lupakan saja....
Mantan
Jam setengah tujuh pagi. Saya masih bergumul dengan bantal guling. Rasanya mesih enggan untuk beranjak. Suara ribut-ribut terdengar samar.
”Mas.. Mas.. bangun dong! Anterin adek ke sekolah ya?”
”Ughhh.. adek! Gangguin kakak aja. Masih ngantuk nih!”
Kemarin malam saya memang begadang sampai jam 2 dengan teman-teman rumah.
”Adek pengen dianter kakak. Ayo bangun dong kak!”
”Biasanya kamu kan naik motor sendiri. Manja banget!”
”Sekali-kali kan nggak pa pa. Tak bilangin Ibu lho. Jam segini kakak blom bangun”
”Ihhh.. pake ngancem. Ya udah.. ayo tak anter!”
”Duh kakak nih. Mandi dulu dong. Ato paling nggak cuci muka dulu kek! Jorok kok dipelihara”.
“Aku kan sekalian mo ngenalin kakak ke temen-temenku. Cakep-cakep lho kak!”
"Bawel.. kalo udah siap ayo buruan berangkat. Males mo mandi!”
Yap.. itulah adekku. Andina Maharani namanya. Seorang cewek centil yang manis. Masih kelas 1 SMU. Kami hanya dua bersaudara. Kakak-adik. Cowok-cewek. Mungkin bapak-ibuku merupakan gambaran salah satu pasangan Keluarga Berencana alias KB yang berhasil.
”Siap kak! Ayo berangkat”
”Yok! Bu.. Ardi keluar dulu ya mo nganter miss clean”
“Iya.. iya..” suara ibu di dapur
”Ihhh.. kakak! Nggak malu apa masih kucel gitu. Nggak pengen apa cari gebetan lagi. Kalo tampilan kakak kayak gitu mana ada cewek yang doyan?”
”Cerewet.. aku malah malu kalo tampil gaul kayak yu”
”emang susah ya ngasih tau kakak, padahal kalo saja kakak..”
”Wis wis wis.. ceramahnya ditelen lagi aja dulu, ntar telat kapok!”
Adik memang begitu. Selalu rame. Saya tidak pernah memanggilnya dengan sebutan yang baik. Miss clean karena dia apa-apa selalu bersih dalam segala hal. Ting alias jiting (bahasa jawa : sapu lidi) karena tubuhnya yang kurus langsing. Beo jelek karena sebagai cewek yang saya anggap cerewetnya sudah diambang batas kewajaran. Dia selalu memprotes penampilanku. Padahal saya anggap penampilanku masih dalam batas kewajaran. Tidak TERLALU memalukan.
”Tuh kak.. cantik-cantik kan temen-temen Dina. Masak sih sedikitpun kakak nggak keblinger (tertarik choy!)”
”Kakak kan dah cukup lama njomblo. Dah 2 tahun kalo seinget Dina. Semenjak putus dengan Mbak Miii.. Loh!!! Itu kan Mbak Mila. Baru aja diomongin, langsung nongol batang idungnya. Panjang umur amat!”
”Hei Mbak Mil”
”Waduh.. gawat nih, emang selau ada bencana menerpa kalo bareng ma kunyuk elek ini” batinku dalam hati
”Kak.. disamperin dong tuh Mbak Mila. Adek tak masuk dulu ya. Ntar jam 2 jangan lupa jemput adek ya”
Dina langsung saja ngacir pergi. Dia menoleh lagi ke saya sambil mengerlingkan mata. Sialan. Langsung saja tak balas dengan mengepalkan tangan. Mila berjalan ke arahku. Nggak tau kenapa juga dia sekarang datang ke SMU 4. SMU-nya Dina, mantan SMU-ku dan SMU-nya Mila. Dari kejauhan Mila melemparkan senyuman. Saya masih agak grogi. Maklum dah lama nggak ketemu. Hampir 1,5 tahun semenjak acara buka puasa bareng sekaliyan reunian anak-anak eks kelas 1F dirumah Mita (figuran yang ga begitu penting untuk dibahas!).
”Hay Di.. surprise kita bisa ketemuan disini”
”Haiii juga La” saya pura-pura terkejut
”Gimana kabarmu Di? Kamu sekarang sombong ya, balik Jogja nggak bilang-bilang”
”Duh.. kok bisa bilang gitu sih. Aku baru nyampe minggu kemaren. Kabarku alhamdulillah baek-baek aja. Kabarmu sendiri gimana La?”
”Alhamdulillah aku juga baik-baik saja.”
”Dalam rangka apa nih dateng ke sini?”
”Ini.. aku lagi bikin kuisioner tentang SMU-SMU di Jogja. Biasa.. tugas kampus! Kamu lagi jadi sopirnya si nona centil ya?”
”Iya tuh.. Dina tadi ribut minta dianterin mpe ngobrak-abrik rambutku. Jadi ya masih kucel gini”
”Masih saja seperti yang dulu. Tapi sekarang kamu kelihatannya lebih dewasa.”
”Halah.. biasa aja lagi. Kampusmu belom liburan semester?”
”Nih sekarang lagi ujian semester. Kebetulan hari ini aku nggak ada jadwal ujian. Jadi aku kesini buat ngelengkapin data tentang sekolah kita. Tugas kuisioner ini sebagai gantinya buat ujian minggu depan.”
”Ooo..”
”Temenin aku mau nggak?”
”Duh.. gimana ya?”
”Ayolah Di, kita kan jarang ketemu. Apa kamu sudah nggak nganggep aku sebagai temanmu lagi? Dan juga bagian dari masa lalumu?! Hiii..”
”Ya sudah lah..”
”Nah.. gitu dong! Ternyata sifatmu masih seperti dulu, nurutan! Hehe.. lagian aku pengen crita-crita dan juga denger crita-crita darimu.”
”Waduh.. gawat darurat!” batinku
Oke... Cewek yang satu ini pantas mendapat porsi untuk diperbincangkan. Namanya Mila Nia Sari. Mantan saya. Dia itu adalah pacar pertama saya. Dan juga cewek yang terakhir kali saya pacarin. Sama juga saya pacaran baru sekali seumur hidup. Dengan dia. Kita berpacaran waktu SMU. Kebetulan kita se-SMU. SMU 4. Tapi kita beda kelas. Saya masuk di kelas F sedangkan dia kelas B. Saya berpacaran dengan dia karena dijodoh-jodohkan teman. Hubungan kita sekarang hanya sebatas teman.. biasa!
Kembali Lagi...???
”Di, dapet telpon tuh!”
”Dari siapa Bu???”
”Dia ndak mau nyebutin namanya. Katanya kejutan!! Pokoe cewek!! Kayae sih mirip suaranya..”
”Cieee..yang mao dapat kejutan nih!! Suit-suittttt..” Adekku yang usil tiba-tiba menyahut dari belakang.
”Apaan sih..biasa aja lagi. Kakakmu ini kan banyak fans cewek-ceweknya. Qeqe..”.
”Wuek..nggak denger aku’.
”Heh..ini lho dari tadi ditungguin kok malah bertengkar saja”.
”Sebentar dulu ya mbak, nih Ardi lagi gosok gigi. Biar fresh katanya”.
”Ihh..Ibu, mana telponnya? Ngawur aja kalo ngomong”.
”Maap ya mbak, aku bukannya lagi gosok gigi tapi lagi Be-Ol. Hehe.. Oiya ini sapa to??”.
”Assalamu ’alaikum..”
”Waalaikum salam.. Maap kelupaan. Hayo..ketauan, ni kamu ya La?! Benar-benar surprice!”.
”Kamu tuh ya..kalo nggak aku yang telpon pasti udah nggak pernah nelpon aku lagi. Udah lupa ya ma aku?!”.
”Hehe..iya udah lupa!”
”Yo wis kalo gitu tak tutup telponnya!”
”Eh..tunggu bentar dong La, bukannya gitu..maksudku itu..”
”Abis kamu sih selalu gitu. Dari dulu nggak pernah berubah”.
”Ya beginilah aku. Tetap seperti dulu n ga akan mau berubah seperti orang lain. Amit-amit deh!”
”Aku tuh nggak nuntut kamu berubah total, tapi ya se-enggak-enggaknya kan sifat-sifatmu yang nggak bener bisa direcycle. Canda n jorok-joroknya agak dikurangin dikit. Geto..”.
”Inggih Den Putri!”
”Mulai lagi deh kumatnya..”
”Ngomong-ngomong dalam rangka apa nih telpon?”
”Nggak..cuman pengen ngobrol aja....
****
Thursday, January 18, 2007
DEADLINE
Etos kerja rata-rata orang Indonesia memang begitu. Terlihat santai ketika belum terjadi penekanan. Baru sibuk, takut, yang ujung-ujungnya menjadi giat ketika terjadi pressure untuk segera menyelesaikan hal yang ditugaskan kepadanya.
Hal itu pulalah yang terjadi padaku....pusiiiingggg.....
Wednesday, January 17, 2007
Angkat Kaki..
Sialan....kampret....anjrit....semua segala caci maki tertumpahkan....
Kapan tim kita bisa berprestasi lagi....
Kapan merah-putih dapat berkibar lagi....
Disegani oleh tim-tim dari negara lain....
Kapan timnas sepakbola kita dapat berbicara jika di tingkat selevel Asia Tenggara aja masih keteteran....
Dan kapan kita sebagai warga Indonesia yang dengan bangganya melihat Timnas kita maen di Piala Dunia....
Jadikan sesuatu yang mustahil....mimpi yang imposible ini bisa menjadi kenyataan....
I HOPE !!!!
4f
Pintu terketuk, tergugah untuk membuka
Ketika hati masih terluka
Lihatlah dia wahai tuanku
Permaisuri indah pesona merekah
Pandangan pertama tak tertolak
Sekail umpan coba ku lempar
Berharap datang cahya mengajak
Melabuh akhir tempat berpijak
Insan nurani terus mendorong
Mengajak tuk mendapat
Hati mana yang tak menolak
Pancaran indah kasih sayangnya
Mata selalu terkalahkan
Tunduk, patuh, berdiam seakan menikmati keajaiban
Menatap tajam sang dewi pujaan
Melintas tak terangan
